Dari Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) Ke 8 : PERAN UMAT : TUMPUAN HARAPAN MASA DEPAN

0 0
Read Time:7 Minute, 46 Second

Munawar Fuad Nuh, CE0, Founder ISalaam Super Aplikasi Connecting Ummah

Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Jumlah tersebut merupakan modal demografi, sosial, ekonomi, dan peradaban yang sangat besar. Namun, besarnya jumlah umat Islam belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kualitas persatuan umat, daya saing ekonomi, kepemimpinan ilmu pengetahuan, maupun pengaruh strategis Indonesia dalam percaturan global.

Umat Islam Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 87% dari total penduduk nasional, menjadikan Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia. Di sisi lain, Indonesia sedang memasuki momentum strategis berupa bonus demografi, transformasi digital, serta persiapan menuju Indonesia Emas 2045. Kondisi tersebut membuka peluang besar sekaligus menghadirkan tantangan yang kompleks.

Di tengah perkembangan global, umat Islam menghadapi berbagai persoalan seperti polarisasi sosial, rendahnya produktivitas ekonomi, kesenjangan pendidikan, penetrasi budaya digital, ancaman disinformasi, degradasi moral keluarga, hingga kompetisi geopolitik internasional. Tantangan tersebut menuntut hadirnya paradigma pembangunan umat yang tidak hanya berorientasi pada ritual keagamaan, tetapi juga pada penguatan kapasitas sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan kebangsaan.

Tulisan ini sebagai catatan pembuka untuk menganalisis tantangan yang dihadapi umat Islam Indonesia untuk menawarkan strategi menuju visi “Umat Bersatu, Bangsa Berdaulat, Negara Kuat” sebagaimana menjadi tema Kongres Umat Islam ke 8 Majelis Ulama Indonesia melalui penguatan keluarga, pendidikan, ekonomi, teknologi, tata kelola kelembagaan, dan kepemimpinan nasional.

Potret Data Strategis Indonesia
Beberapa indikator nasional menunjukkan peluang sekaligus tantangan besar. Beberapa capaian kemajuan pada masa kepemimpinan nasional saat ini menunjukkan optimisme. Terutama dalam mengembalikan landasan dan fondasi kebangsaan sesuai cita kemerdekaan dalam konsensus kebangsaan dan kenegaraan, di mana peran umat Islam sebagai bagian dari warga bangsa menjadi aktor sekaligus obyek pembangunan.

Sejumlah data dan indikator dapat menjadi acuan :
Pertama, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia tahun 2025 mencapai 75,90, menunjukkan peningkatan kualitas pembangunan manusia, meskipun masih terdapat kesenjangan antarwilayah. (Badan Pusat Statistik Indonesia⁠).
Kedua, Kemiskinan nasional menurun menjadi 8,47% pada Maret 2025, namun masih terdapat sekitar 23,85 juta penduduk miskin yang memerlukan penguatan ekonomi inklusif. (Badan Pusat Statistik Indonesia⁠).
Ketiga, Penduduk Indonesia mencapai sekitar 284,67 juta jiwa dengan pertumbuhan yang melambat. Sebagian besar berada pada usia produktif, sehingga kualitas SDM menjadi faktor penentu keberhasilan pembangunan. (Badan Pusat Statistik Indonesia⁠).
Keempat, Indonesia memasuki fase on going population, sementara bonus demografi masih berlangsung. Kondisi ini menuntut investasi besar pada pendidikan, kesehatan, dan produktivitas generasi muda. (Badan Pusat Statistik Indonesia⁠)

Tantangan Strategis Umat Islam Indonesia
Indonesia tak perlu berharap atau mengandalkan kekuatan luar manapun untuk menolong dan mengatasi masalah bangsa secara signifikan. Zulkifli Hasan, Zulham, Menko Pangan RI, menyatakan, semua bangsa dan negara lain akan mengutamakan kepentingan dirinya dan tujuan domestiknya. Hanya dengan kesadaran bahwa kita sebagai bangsa dapat bangkit dan maju, keluar dari krisis atau mencari solusi apapun dengan kemandirian, berdikari dan dimulai dari kemampuan dan kekuatan diri sebagai bangsa.

Umat Islam Indonesia, dengan potensi dan kekuatan yang dimilikinya mempunyai Pekerjaan Rumah (PR) bagaimana masalah yang menghinggapi di dalamnya. Akan sangat berbahaya membiarkan masalah yang dialami internal keumatan, jika tiada upaya menyelesaikan atau menuntaskan akar masalahnya.

Pertama, Fragmentasi Persatuan Umat. Perbedaan organisasi, pilihan politik, mazhab, maupun kepentingan sering kali mengurangi energi kolektif umat. Perselisihan internal lebih banyak menyita perhatian dibandingkan kolaborasi membangun peradaban. Persatuan (ukhuwwah) belum sepenuhnya berkembang menjadi sinergi kelembagaan yang produktif.
Kedua, Lemahnya Kemandirian Ekonomi Umat. Meskipun Indonesia memiliki potensi besar pada sektor halal, zakat, wakaf, UMKM, pesantren, dan masjid, kontribusi ekonomi umat masih belum optimal karena: minim integrasi kelembagaan; rendahnya literasi digital; lemahnya akses pembiayaan; dan belum terbangunnya rantai nilai ekonomi umat.
Ketiga,Krisis Ketahanan Keluarga. Peningkatan perceraian, kekerasan terhadap perempuan dan anak, penyalahgunaan narkoba, pornografi digital, perjudian daring, hingga rendahnya literasi pengasuhan menjadi ancaman serius terhadap pembangunan manusia Indonesia. Padahal, Keluarga merupakan sekolah pertama bagi pembentukan karakter bangsa.
Keempat, Disrupsi Teknologi Digital. Perkembangan kecerdasan buatan (AI), media sosial, dan ekonomi digital membuka peluang sekaligus ancaman berupa: hoaks, ujaran kebencian, radikalisme digital, cyber bullying, dan degradasi etika digital.
Kelima, Rendahnya Penguasaan Sains dan Teknologi. Kemajuan peradaban modern sangat ditentukan oleh inovasi, riset, teknologi, dan produktivitas. Tantangan terbesar umat bukan hanya kemiskinan ekonomi, tetapi juga kemiskinan inovasi.
Keenam, Lemahnya Sinergi Antar Lembaga. Indonesia memiliki ribuan pesantren, ratusan ribu masjid, organisasi Islam, perguruan tinggi Islam, lembaga zakat, dan lembaga sosial. Namun potensi besar tersebut belum sepenuhnya bergerak dalam satu ekosistem pembangunan nasional.
Keenam peta masalah internal keumatan, dapat menjadi problem utama (common problems) yang bisa menjadi kajian bersama pada Kongres Umat Islam Indonesia ke-8 untuk mendapatkan konsep strategis solusi dan langkah pragmatis dalam implementasi dan gerakan aksi berkesinambungan.

Menata Visi Strategis
Apa yang menjadi tema KUII (Kongres Umat Islam Indonesia) ke 8 mencoba merangkai visi, misi dan aksi gerakan yang membumi dengan membingkai spirit Umat Bersatu, Bangsa Berdaulat dan Negara Kuat. Umat Bersatu berarti spirit persatuan dibangun di atas tiga fondasi: ukhuwah Islamiyah, ukhuwah Wathaniyah, dan ukhuwah Insaniyah. Persatuan berarti kolaborasi, bukan penyeragaman.
Bangsa Berdaulat. Kedaulatan bangsa merupakan upaya sinergis yang diwujudkan melalui: ketahanan pangan,ketahanan energi, ketahanan keluarga, ketahanan ekonomi, ketahanan digital, dan kemandirian teknologi. Dengan bersatu dan berdaulat, maka cita bersama untuk menjadikan bangsa dan negara yang kuat bisa terwujud. Sebuah negara kuat apabila memiliki: SDM unggul, birokrasi bersih, ekonomi produktif, masyarakat harmonis, dan kepemimpinan berintegritas.

Melalui KUII ke 8, beragam representasi umat dari latar belakang kompetensi, komunitas, dan perwakilan, melakukan telaah kritis dan strategi, bagaimana sebuah negara yang kuat bisa mengantarkan cita utama bagaimana mewujudkan Indonesia adil makmur terwujud bagi setiap warga bangsa. Agar tak hanya menjadi bahan diskusi dan wacana, diperlukan pilihan HOW to, bagaimana cara dan siasat dengan menawarkan strategi implementasinya.

Strategi Transformasi Umat
Tak hanya pada tataran spirit, ibarat rumah yang telah memiliki fondasi untuk mewujudkan negara kuat yang dilandasi umat yang bersatu dan bangsa yang berdaulat, membutuhkan 5 (lima) pilar penting yang harus dibangun sebagai fokus transformasi keumatan dalam sinergi pembangunan negara.
Pilar Pertama, Revolusi Pendidikan, dengan integrasi ilmu agama dan sains; literasi digital nasional; AI untuk pendidikan Islam; dan penguatan riset dan inovasi.
Pilar Kedua, Kebangkitan Ekonomi Umat dengan gerakan program digitalisasi UMKM; penguatan ekonomi masjid; optimalisasi zakat, infak, sedekah dan wakaf produktif; pengembangan industri halal; dan kewirausahaan pemuda.
Pilar Ketiga, Penguatan Ketahanan Keluarga dengan Prioritas meliputi: pendidikan pranikah; parenting nasional; perlindungan perempuan; perlindungan anak; kesehatan mental keluarga; dan literasi digital keluarga.
Pilar Keempat, Transformasi Digital Keumatan dengan membangun: satu data umat; satu data masjid; satu ekosistem layanan digital; platform dakwah berbasis AI; dan sistem pelayanan publik keagamaan digital.
Pilar Kelima, Kepemimpinan Nasional yang mampu mendorong lahirnya pemimpin yang amanah, profesional, kompeten, berintegritas, visioner, dan melayani masyarakat.

Agenda Strategis Nasional
Upaya menyatukan pandangan, arah dan tujuan umat dalam bingkai kebangsaan dan kenegaraan harus dibangun dalam kesatuan visi, misi dan aksi yang terorkestrasi. Bila masih terkotak, terpragmentasi dan terpecah, apapun fondasi, strategi dan aksi umat tak akan bisa mencapai hasil yang optimal. Karenanya, orkestrasi gerakan keumatan diperlukan untuk menjadi konsensus bersama.

Setidaknya terdapat gerakan dan aksi bersama yang menjadi kebutuhan dan arah bersama gerakan keumatan di Indonesia. Sepuluh Agenda strategis Keumatan meliputi : Gerakan Nasional Persatuan Umat, Gerakan Ketahanan Keluarga Indonesia, Gerakan Ekonomi Masjid, Digitalisasi Masjid Indonesia, Penguatan Pesantren Produktif, Pusat Riset Peradaban Islam Indonesia, Gerakan Literasi AI dan Teknologi, Konsolidasi Ormas Islam dan Diplomasi Islam Moderat Indonesia dan tersusunnya arsitektur Roadmap Indonesia sebagai Pusat Peradaban Islam Dunia.

Umat dengan jumlah yang besar dengan potensi dan kekuatan di Indonesia didukung dengan adanya infrastruktur sosial dan spiritual bernama rumah ibadah, yaitu masjid. Masjid dengan jumlah besar di mana Indonesia layak dikenal sebagai Negeri Sejuta Masjid masih belum didukung dengan data dan sistem data yang satu dan terintegrasi. Karena itu, masjid perlu dikembangkan menjadi pusat ibadah, pendidikan, ekonomi, kesehatan masyarakat, pelayanan sosial, inovasi, pemberdayaan pemuda, ketahanan keluarga dan transformasi digital.

Rekomendasi Kebijakan
Dari forum strategis Kongres Umat Islam ke 8, menjadi tumpuan harapan umat dan bangsa, bahkan bagaimana kontribusi besar Indonesia kepada tatanan global, peran umat Islam akan lebih jelas dan terukur dengan melakukan kerja dan agenda yang utuh dan menyeluruh untuk melahirkan berbagai kebijakan strategis.

Pertama, Menyusun Grand Design Pembangunan Umat Indonesia 2026–2045 yang terintegrasi dengan Asta Cita, Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional dan dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah dan Jangka Pendek Nasional.
Kedua, Mengembangkan SDM Keumatan melalui Transformasi Pendidikan Islam dan Pesantren dalam membangun Karakter dan Pemberdayaan Ekonomi Umat.
Ketiga, Memperkuat kolaborasi pemerintah, MUI, ormas Islam, perguruan tinggi, pesantren, dunia usaha, dan komunitas.
Keempat, Mendorong investasi pada pendidikan, riset, teknologi, dan ekonomi syariah.
Kelima, Menjadikan keluarga sebagai pusat pembangunan karakter bangsa.
Keenam, Mengembangkan diplomasi keumatan dalam Diplomasi dan Kolaborasi Global dengan negara-negara dan Lembaga Islam Internasional.
Ketujuh, Memperluas transformasi digital dengan mengembangkan Satu Data Umat dan Masjid Indonesia sebagai basis perencanaan kebijakan serta pelayanan keagamaan dan pemberdayaan ekonomi umat.
Kedelapan, Menyiapkan kaderisasi kepemimpinan, penggiat philanthropy Islam (Social Preneur Leader) yang terintegrasi dan terakselerasi dalam sistem eksekutif, legislatif, yudikatif dan korporasi serta lembaga strategis.

Bersatu Mencapai yang Dituju
Persatuan umat bukan sekadar tujuan moral, melainkan prasyarat strategis bagi terwujudnya Indonesia yang berdaulat dan maju. Dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki modal sosial yang luar biasa. Namun modal tersebut hanya akan menjadi kekuatan apabila ditopang oleh kualitas sumber daya manusia, penguasaan ilmu pengetahuan, ekonomi yang produktif, tata kelola yang baik, serta kepemimpinan yang mampu menyinergikan keberagaman menjadi energi pembangunan.
Visi “Umat Bersatu, Bangsa Berdaulat, Negara Kuat” bukan hanya slogan, tetapi agenda transformasi nasional yang memerlukan kolaborasi seluruh elemen bangsa. Dalam perspektif Islam, persatuan harus diwujudkan melalui kerja nyata yang menghadirkan kemaslahatan, memperkuat ketahanan keluarga, memajukan pendidikan, mengembangkan ekonomi yang berkeadilan, serta menjadikan Indonesia sebagai pusat peradaban Islam yang rahmatan lil-’alamin bagi kemaslahatan semua.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %